Uzlah Bagi Murid, Pentingkah?

Uzlah Bagi Murid, Pentingkah?. Para ulama berbeda pendapat tentang anjuran untuk melakukan ‘uzlah. Sebagian ulama berpendapat bahwa ‘uzlah pada masa sekarang sangat dianjurkan dan lebih utama dari pada bercampur dengan manusia, karena kebanyakan mereka telah terjerumus dalam kerusakan dan akhlak yang tidak baik. Diantara ulama yang memegang pendapat ini diantaranya Sufyan Ats-Tsauri, Ibrahim bin Adham, Daud At-Thai, dll.

Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat sebaliknya. Mereka berpendapat bahwa dengan berbaur dengan manusia seseorang akan memiliki kesempatan ibadah tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Adapun dasar dari pendapat ini adalah sabda nabi Muhammad Saw yang memerintahkan untuk menjaga persatuan, perdamaian, dan kerukunan antar sesama manusia.

Ketika ada salah satu sahabat nabi yang meminta izin kepada nabi untuk ber’uzlah, nabi Muhammad bersabda,

لاَ تَفْعَلْ أَنْتَ وَلاَ أَحَدٌ مِنْكُمْ لَصَبْرُ أَحَدِكُمْ فِى بَعْضِ مَوَاطِنِ الْإِسْلاَمِ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ أَحَدِكُمْ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Jangan engkau lakukan, begitupula dengan yang lain selainmu. Sesungguhnya kesabaran (berbaur dengan masyarakat) di negeri Islam lebih utama dari pada ibadah kalian selama empat puluh tahun.

Adapun ulama yang menganjurkan untuk melakukan ‘uzlah berlandaskan pada sabda nabi, Abdullah bin Amr Al-Juhani bertanya kepada Rasulullah, “wahai nabi, bagaimana caranya agar aku bisa selamat?”, beliau bersabda,

لِيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ

Tetaplah engkau tinggal di rumah, tahanlah lidahmu dai kesia-siaan, dan menangislah karena dosa yang telah engkau lakukan.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang boleh memilih diantara dua hal. Apabila kita termasuk orang yang telah kuat imannya, telah dalam ilmu dan kekuatan hatinya, maka lebih baik kita berkumpul dengan banyak orang. Karena dengan begitu, banyak orang yang akan berubah menjadi baik karena pengaruh kita.

Namun, jika kita merasa belum kuat menahan hawa nafsu, yang bisa mengakibatkan kita terbawa arus gelap zaman akhir, maka lebih baik kita mengasingkan diri dengan beribadah, berdzkir, dan merenungi kebesaran Allah Swt melalui ciptaan-ciptaan-Nya.

Namun para ulama tetap mewajibkan para murid untuk melakukan ‘uzlah, karena dengan uzlah, jiwa-jiwa yang sebelumnya lemah akan menjadi kuat. Dan yang kuat akan semakin kuat, dalam menghadapi segala rintangan-rintangan yang akan menghalanginya dari upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan setelah uzlah selesai dilakukan -setiap murid membutuhkan waktu sendiri-sendiri untuk mencapai hasil yang diinginkan- mereka diperintahkan untuk kembali membaur dengan masyarakat, lalu mengajak mereka untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang diridhai-Nya.

Mencegah Buruk Sangka Sambil Terus Beramar Makruf

Mencegah Buruk Sangka Sambil Terus Beramar Makruf. Rukun iman ke-enam yang harus kita imani sebagai orang muslim adalah beriman kepada takdir Allah, yang baik dan yang buruk. Sesungguhnya segala sesuatu itu baik, karena semuanya berasal dari Allah, meskipun manusia menganggapnya buruk.

Karena dangkalnya pikiran dan pemahaman manusia sehingga ia menyimpulkan ada takdir baik dan ada takdir buruk. Padahal sseungguhnya semua takdir adalah baik karena ia berasal dari Allah, dan kita beriman kepada-Nya.

Orang yang menurut pandangan mata kita buruk, belum tentu buruk juga di menurut pandangan Allah. Oleh karena itu, sebaiknya manusia tidak terburu-buru untuk berprasangka buruk kepada orang lain, bahkan sifat prasangka buruk harus kita jauhkan sejauh-jauhnya dari kita. Karena meskipun itu benar, itu tetaplah prasangka buruk yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Banyak orang di sekeliling kita -yang menurut adat- prilakunya sangat buruk, sehingga menuntut diri kita untuk terus bersabar untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka, dan ini adalah bagian dari cobaan Allah SWT. Jika kita bisa bersabar untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka, maka Allah akan bersama kita, karena Allah telah berfirman, “Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar”.

Adanya keburukan di sekeliling kita tidak lantas membuat kita berpangku tangan untuk melakukan amar makruf nahi munkar (menasehati yang baik dan mencegah dari yang tidak baik), karena alasan meninggalkan sifat berburuk sangka.

Meninggalkan prasangka buruk adalah amalan hati, sedangkan amar makruf nahi munkar adalah amalan badan yang diperintahkan Allah, dimana keduanya dapat kita lakukan secara bersamaan. Namun sangat disangkan, bahwa orang yang gemar berburuk sangka itu biasanya tidak gemar beramar makruf, dan sebaliknya orang yang gemar beramar makruf itu yang biasanya gemar berburuk sangka.

Kita mengakui bahwa meninggalkan buruk sangka sangat berat kita lakukan apalagi di zaman akhir yang sangat jarang kita temukan kebaikan. Namun begitu, itu adalah perintah Allah dan perintah Rasulullah yang harus kita laksanakan, sebagaimana sabdanya, “jauhilah olehmu prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan”. Dan semoga kita termasuk orang yang bisa melakukannya, Amin.

Cara yang paling mudah untuk tidak berprasangka kepada orang lain adalah melihat segala sesuatu dari Allah, bahwa apa yang terjadi pada diri dan orang lain telah tertulis di dalam Lauhul mahfudz yang tidak mungkin kita tentang. Ketika kita menolak suatu peristiwa yang terjadi maka pada hakikatnya kita sedang menolak Allah SWT. Menolak Allah berarti tidak ridha dengan perbuatan Allah, yang berarti ia akan tercegah dari ridha Allah SWT. Na’udlu billahi min dzaalik.

Hadapilah segala sesuatu dengan santai karena semuanya telah ditentukan, sambil menjalankan kewajiban kita sebagai muslim untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika kita telah berusaha melakukannya tetapi yang kita inginkan tidak tercapai, maka kita kembalikan lagi kepada Allah sambil menjaga adab yang baik kepada-Nya. Wallahu A’lam .

Belajar Berlatih Untuk Menghargai Orang Lain

Belajar Berlatih Untuk Menghargai Orang Lain. Hampir setiap orang merasa bahwa dirinya benar, benar dalam segala hal, baik perkataan, perbuatan, pikiran, dan ibadahnya. Dan sebaliknya orang lain ia anggap salah. Hal itu terjadi karena ia masih terhijab oleh nafsunya.

Nafsu yang dibantu oleh setan terus-menerus berusaha agar manusia mengagung-agungkan dirinya karena ketampanan, kepandaian, harta, dan jabatannya.

Orang yang tidak membiasakan dirinya untuk selalu dekat dengan Allah akan mudah tergoda oleh ajakan hawa nafsu. Ia akan terbuai dengan segala tipuan-tipuan duniawi yang fana itu.

Karena banyaknya hijab yang menutupi hatinya ia tidak mampu melihat dirinya yang sesungguhnya. Hakikat hamba yang hina, fakir, lemah, dan selalu butuh kepada selainnya. Semua itu tidak bisa ia temukan di dalam hati yang terhijab, sehingga yang ia rasakan adalah hal-hal sebaliknya, yaitu ia merasa mulia, terhormat, kaya raya, mampu, dan berkuasa.

Itulah sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh Tuhan, bukan hamba. Padahal Allah akan murka apabila sifat-sifat-Nya itu dpakai oleh hamba-Nya. Di dalam hadis qudsi Allah berfirman,

“keagungan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, barangsiapa yang mengambil salah satunya, maka Aku akan melemparkannya ke neraka”.

Begitu dahsyat ancaman Allah bagi orang yang mengagung-agungkan dirinya sendiri.

Allah tidak melarang engkau pandai, berharta, memiliki jabatan tinggi, dan berkuasa, tetapi ingatlah bahwa semua itu anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Kepandaian harus dimanfaatkan untuk memandaikan orang-orang yang masih bodoh, kekayaan harus digunakan untuk mengkayakan orang-orang miskin, jabatan harus digunakan untuk menolong orang-orang yang tak berjabat, dan kekuasaan harus memberikan kemanfaatan bagi orang-orang yang tak berkuasa. Apabila hal ini dilakukan maka ia telah menjadi hamba yang bersyukur.

Apa yang sering kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari tentang prilaku buruk dari orang-orang yang berharta dan berkuasa dapat kita jadikan pelajaran bahwa sifat tamak kepada dunia harus kita tinggalkan jauh-jauh. Kita harus selalu ingat bahwa dunia adalah sarana yang akan menjadikan kita abadi, dan bukan keabadian itu.

Apakah manusia tidak berfikir jika ada kehidupan abadi setelah kehidupan ini, kehidupan yang harus menjadi tujuan hidup orang-orang yang telah dikaruniai Allah dengan akal dan hati yang sehat. Semoga Allah segera membuka hijab hati kita, sehingga kita akan senantiasa melihat keburukan-keburukan kita sendiri hingga kita tidak sempat lagi melihat keburukan orang lain. Dan melihat nikmat-nikmat Allah yang sangat banyak, hingga kita tidak lagi tamak kepada yang fana.

Amiin ya Rabbal Alamiin.