Allah Memberi Rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki

اَللّٰهُ لَطِيْفٌۢ بِعِبَادِهٖ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ ࣖ ( الشورى : ١٩)

Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

(QS. Asy-Syura ayat 19)

Tafsir Wajiz
Kementrian Agama RI

ayat ini menggambarkan beberapa sifat Allah. Sifat-sifat itu adalah bahwa Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya dengan melimpahkan banyak rahmat dan kebaikan kepada mereka dengan sangat mudah; Dia memberi rezeki, yakni berbagai anugerah kenikmatan kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa diskriminasi dan kemaslahatan mereka tanpa Dia memperhitungkan sejauh mana kebaikan hamba itu terhadap-Nya dan Dia Mahakuat terhadap segala anugerah-Nya sehingga tidak ada yang dapat menahan pemberian-Nya, Mahaperkasa terhadap segala keinginannya sehingga tidak ada yang dapat menghalanginya.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya) baik terhadap mereka yang berbakti maupun terhadap mereka yang durhaka, karena Dia tidak membinasakan mereka melalui kelaparan sebab kemaksiatan mereka (Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya) artinya, Dia memberikan kepada masing-masingnya apa yang Dia kehendaki (dan Dialah Yang Maha Kuat) atas semua kehendak-Nya (lagi Maha Perkasa) Maha Menang atas semua perkara-Nya.

Renungan :

Rezeki yang kamu miliki adalah mutlak karunia dari Allah sebagai ujian untuk semakin dekat kepada Allah atau sebaliknya

Allah yang Menentukan Lapang dan sempitnya rezeki , Bukan karena bakat atau Ikhtiarmu

اَوَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ ( الزمر : ٥٢)

Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

(QS. Az-Zumar ayat 52)

Di dunia, ketika manusia mencapai sesuatu, dia sangat senang berpikir bahwa itu adalah hasil dari bakatnya sendiri. 

Faktanya adalah bahwa hal-hal duniawi dimaksudkan sebagai cobaan baginya dan bukan sebagai hadiah atas bakat atau ikhtiar yang dilakukannya.

Mengetahui fakta ini berarti memiliki pengetahuan sejati. Jika seseorang menganggap bahwa hal-hal di dunia ini ada dalam genggamannya karena bakatnya, dia mengembangkan mentalitas kesombongan dan kesia-siaan. 

Sebaliknya, jika seseorang menganggapnya sebagai bahan ujian, rasa syukur dan kerendahan hati akan muncul dalam dirinya. Bertambah atau berkurangnya bekal manusia di dunia ini adalah suatu hal yang berada di luar kemampuan manusia. 

Tampaknya ada kekuatan di luar jangkauan manusia yang memutuskan siapa yang harus menerima lebih banyak dan siapa yang harus menerima lebih sedikit. 

Hal ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai rezeki tidak dibuat atas dasar bakat pribadi. Diputuskan atas dasar lain, dan dasar itu adalah bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan bukan tempat untuk membagi-bagikan pahala. 

Jadi, apa pun yang diterima seseorang di dunia ini adalah untuk ujiannya. 

Penguji, atas kebijakannya sendiri, memberikan satu jenis kertas ujian kepada satu orang dan jenis kertas lain kepada orang lain. Dia mencoba satu orang di bawah satu set kondisi, sementara Dia mencoba orang lain di bawah set kondisi yang berbeda.

Allah melapangkan rezeki siapa yang Dia kehendaki dan membatasi rezeki siapa yang Dia kehendaki.