Rajab Adalah Bulan Yang Mulia

Rajab Adalah Bulan Yang Mulia. Allah memberikan kemuliaan pada orang tertentu, tempat tertentu, dan waktu tertentu. Dan diantara waktu yang dimuliakan Allah adalah bulan Rajab. Bagaimanakah mulianya bulan Rajab, berikut ini adalah kutipan dari ceramah yang disampaikan oleh Al-Habib Umar bin Hafifz.

Dengan karunia dari Allah kita akan segera memasuki bulan Rajab yang penuh berkah.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah, Sha`ban adalah bulan ku, dan Ramadhan adalah bulan umatku” (Imam Al Suyuti).

Karena Rajab adalah bulan Allah berarti harus dihormati. Rasulullah SAW sangat menghormati bulan Rajab. Ketika bulan rajab datang beliau akan mencari berkah, dengan mengatakan:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا في رَجَبٍ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِّغْنا رَمَضَانَ
Ya Allah berkati kami di bulan Rajab dan sya’ban dan semoga kami bisa sampai pada Ramaḍhan (Imam Ahmad).

Rajab adalah kunci dari bulan bulan terbaik yang datang mengikuti sesudahnya, Imam Abu Bakar al-Warraq berkata, “di bulan Rajab kamu menanam bibitnya, di bulan Sha`bān kamu merawat dan menyiraminya dan di bulan Ramaḍan adalah waktu panen”. Beliau juga berkata, “Rajab seperti angin, Sha`ban adalah awan mendung, dan Ramaḍan hujannya”.

Di bulan Rajab kedua orang tua Rasulullah menikah, dan dibulan yang sama ibunda Sayyidah Aminah hamil janin manusia pilihan terbaik yang pernah diciptakan Allah, yaitu baginda Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam.

Dari para ulama kita tahu bahwa Isra’ Mi`raj juga terjadi pada malam 27 Rajab. Itulah malam dimana Rasulullah menerima kemuliaan teragung yang pernah diberikan kepada ciptaan Nya.

Malam Pertama Bulan Rajab,

Pada malam ini kita disarankan untuk fokus beribadah pada Allah. Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam bersabda, “ada lima malam mulia yang do’anya tidak ditolak, yaitu: malam pertama Rajab, malam kelima belas dari Sha`ban (nisfu sya’ban), Kamis malam (malam jumat), malam sebelum Idul Fitri, dan malam sebelum Idul al-Nahr (Adha)”. (Imam Al Suyuti).

Sayyiduna Ali Karramallahu Wajhahu senantiasa menghabiskan empat malam dalam ibadah, yaitu: malam pertama Rajab, malam sebelum dua `Eid, dan malam 15 Sha`bān. Untuk alasan ini para ulama dari Tarim mengadakan majlis khusus dzikirullah pada malam pertama bulan Rajab dan diikuti dengan mengadakan maulid besar keesokan harinya.

Rajab, Bulan Istighfar (mohon Pengampunan)

Cara terbaik untuk mempersiapkan hati untuk menerima ganjaran kemuliaan dari Allah adalah mensucikan diri melalui pertobatan.

Telah diriwayatkan, “mohon banyak pengampunan dari Allah di bulan Rajab, karena dalam setiap jam (dalam bulan rajab) Allah membebaskan orang orang dari neraka”. (Imam Al Dailami).

Untuk alasan ini para ulama mengatakan bahwa Rajab adalah bulan mencari pengampunan, Sha`ban adalah bulan menganugerahkan sholawat dan salam pada Nabi, dan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an.

Wallahu A’lam

Doa Biar Dunia Mengejar Kita

Doa Biar Dunia Mengejar Kita. Orang yang berada di alam dunia ini memang dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah. Mencari nafkah bukanlah tanda seseorang yang jatuh cinta kepada dunia, namun ia adalah bagian dari ketaatan kepada ajaran agama Islam. Islam mengajarkan bahwa seorang laki-laki yang telah berkeluarga berkewajiban untuk mencari rezeki yang lancar untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam pencarian nafkah ini, banyak manusia yang mengeluh. Mereka mengeluhkan kesempitan dan kesusahan. Seolah-olah Allah yang Maha Kaya itu tidak bisa mengkayakannya.

Ketahuilah sesungguhnya kesempitan hati itu bukanlah karena sedikitnya rezeki yang diperoleh, tetapi itu akibat dari jauhnya seorang hamba dari tuhannya. Kebanyakan orang hanya memusatkan pikirannya pada bekerja dan bekerja, sampai mereka melupakan senjata kaum mukmin yaitu doa.

Diriwayatkan bahwa seorang Sahabat mengeluh kepada Rasulullah dan berkata : “Ya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen.? Sambil tersenyum Nabi Muhammad mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu kalimat :

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم واستغفر الله

SUBHANALLAH WA BIHAMDIHI SUBHANALLAHIL ‘AZHIM WASTAGHFIRULLAH

Lalu Nabi bersabda :

“Bacalah 100 kali sebelum terbit Fajar. Maka dunia akan memohon kepada الله agar engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)” Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita : Ya Rasulullah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya”

*Diriwayatkan oleh Alkhatib Al Baghdadi dari Imam Malik RahimahuLLAAH. Dikutip dari Kitab : أبواب الفرج oleh Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki RahimahuLLAAH) “Beliau Alhabib Ali bin Abdurrahman Assegaff membaca doa itu,semoga kita bisa mengamalkannya dan memperoleh rezeki yang melimpah untuk ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu A’lam

Siapa Pengarang Maulid Diba’i

Siapa Pengarang Maulid Diba’i. Hampir di setiap kampung di Indonesia pasti mengadakan pembacaan Kitab Maulid Ad-Diba’i pada setiap minggunya. Bahkan ada yang menyelenggarakan sampai 3 kali dalam seminggu. Hal ini tidaklah sebuah kebetulan. Ini adalah sebuah warisan yang besar dan kenikmatan yang agung yang ditinggalkan oleh para ulama.

Apa yang lebih utama dari Rasulullah SAW, sedangkan kitab itu berisi segala sesuatu tentang nabi Muhammad SAW. Dan apabila nama Muhammad disebut-sebut di suatu tempat ,maka hujan rahmat pasti akan turun deras di tempat itu dan akan membanjiri sekelilingnya.

Beliau adalah seorang ahli hadits yang bernama Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusufbin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i.

dilahirkan pada 4 Muharram tahun 866 H dan wafat hari Jumat 12 Rajab tahun 944 H. Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada bandingnya pada masa hayatnya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya.

Setiap hari beliau akan mengajar hadits dari masjid ke masjid.Di antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir binHusain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain daripada itu, beliau juga seorang muarrikh, yakni ahli sejarah, yang terbilang.Beliau dilahirkan di kota Zabid (Zabid (salah satu kota di Yaman Utara) pada sore hari Kamis 4 Muharram 866 H.) Kota ini sudah dikenal sejak masa hidupnya Nabi Muhammad SAW., tepatnya pada tahun ke 8 Hijriyah.

Dimana saat itu datanglah rombongan suku Asy`ariah (diantaranya adalah Abu Musa Al-Asy`ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al-Munawwaroh untuk memeluk agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya ataskedatangan mereka NabiMuhammad SAW. berdoa memohon semoga AllahSWT. memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR. Al-Baihaqi). Dan berkat barokah doa Nabi,hingga saat ini, nuansa tradisi keilmuan diZabid masih bisa dirasakan.

Hal ini karenagenerasi ulama di kota ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan islam.Masa Kecil Ibn Diba`IBeliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu, hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian, setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar, bahwa ayahnya meninggal didaratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para ulama kota Zabid ad-Diba’i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dipelajari beliau adalah: ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari Ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih.Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya.

Sepulang dari MakkahIbn Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho` dibawah bimbingan syekh Zainuddin Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Ditengah-tengah sibuknya belajar hadis, Ibn Diba’ menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.Pelajaran penting dari ad-Diba’iIbn Diba’ mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al-fatihah dan menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al-fatihah.

Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi bahwa hari kiamat telah datang lalu dia mendengar suara “ wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah” lalu orang –orang bertanya “kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” kemudian dijawab, karena mereka sering membaca surat Al-fatihah.Karya ad-diba’iIbn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik dibidang hadits ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i,Diantara buah karyanya yang lain : Qurrotul `Uyun yang membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul,Bughyatul Mustafid dan beberapa bait syair.

Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab.Ibn Diba’i wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 H.
Dan berikut adalah makam dari sayyidina abdurrahman ad diba’i tersebut di kota zabid,yaman.

Wallahu A’lam