Menyibukkan Diri Dengan Yang Diperintahkan

Allah memerintahkan umat manusia agar mereka menyembah dan beribadah kepada-Nya,

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 21)

Ibadah manusia meliputi ibadah dzahir dan ibadah batin. Ibadah dzahir dilakukan oleh badan, sedangkan ibadah batin dilakukan oleh hati. Manusia diperintahkan oleh Allah untuk melakukan ibadah secara sempurna.

Kesempurnaan ibadah itulah yang harus menyibukkan manusia. Ketika ia merasa belum bisa membaca surat Al-Fatehah -yang merupakan ruku shalat-, maka ia harus menyibukkan diri menghafal surat Al-Fatehah. Ketika ia merasa bacaan Al-Fatehahnya belum sempurna tajwid dan makhrajnya, maka ia harus menyibukkan diri untuk mempelajari tajwid Al-Qur’an.

Ketika ia belum memahami bacaan-bacaan di dalam shalat, maka ia harus menyibukkan diri untuk mengetahui makna-makan bacaan tersebut, karena dengannya ia bisa melaksanakan perintah Allah untuk khusuk di dalam shalat.

Ia juga harus menyibukkan dirinya dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah sehari-harinya, ketika ia merasa belum mengetahuinya. Karena ilmu akan membuat ibadah menjadi sempurna. Ketika ia merasa belum ikhlas dalam berbuat baik, maka ia harus menyibukkan dirinya dengan upaya untuk mendapatkan ikhlas dalam beribadah, apakah dengan menghadiri majlis-majlis ta’lim atau bertanya dengan seseorang yang pakar dibidangnya.

Itulah diantara hal-hal yang seharusnya menyibukkan manusia. Namun, kebanyakan manusia tertipu dengan dunia dan hawa nafsu. Padahal Allah tidak menyuruh mereka untuk tunduk pada dunia, tetapi dunialah yang harus tunduk pada manusia, karena Allah telah menundukkannya untuk mereka.

Allah berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Jatsiyah: 13).

Kekhawatiran manusia akan nasibnya di dunia membuat buta mata hatinya. Sehingga yang menjadi tujuan hidupnya hanyalah terus menumpuk harta. Mereka lupa dengan firman Allah,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢) كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣) ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٤) كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (٥) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (٦) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (٧) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.

niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. At-Takatsur 1-8).

Baca Juga : Anda Galau, Ini Obatnya

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: