Kalam-Kalam Ulama Tentang Keutamaan Ilmu

  1. Allah berfirman kepada Rasulullah SAW:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah (wahai Muhammad): “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Thahaa: 114).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan nabi-Nya agar memohon tambahan ilmu. Meskipun ‘nabi’ adalah derajat manusia yang paling mulia, karena di dalam hatinya menyimpan lautan ilmu Allah, tetapi Muhammad masih diperintahkan untuk meminta tambahan ilmu kepada Allah. Jika seorang Rasul yang paling mulia saja masih meminta ilmu kepada Allah, mengapa kita yang bukan siapa-siapa ini enggan meminta ilmu kepada-Nya?!.

  1. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Ra.berkata: “Tampak kepadaku cahaya yang sangat besar memenuhi cakrawala. Lalu cahaya itu memanggilku: ‘Wahai Abdul Qadir, aku adalah tuhanmu dan sungguh telah aku halalkan bagimu segala sesuatu yang haram’, maka aku berkata: ‘Menyingkirlah hai yang dilaknat!’, tiba-tiba cahaya itu menjadi gelap, kemudian ia berkata: ‘Hai Abdul Qadir, engkau selamat dariku dengan sebab ilmumu akan tuhanmu serta kedudukanmu. Sesungguhnya aku telah menyesatkan -dengan cara ini- tujupuluh orang dari ahli thariqah’, aku berkata: ‘segala kemuliaan hanya milik Allah’”.

Syaikh Abdul Qadir menceritakan mimpinya kepada sahabat dan murid-muridnya, lalu mereka bertanya: “Wahai Syaikh, bagaimana engkau mengetahui bahwa ia adalah setan?”, syaikh berkata: “dengan kata-katanya, ‘aku halalkan bagimu segala sesuatu yang haram’. {At-thabaqaat Al-Kubraa}.

  1. Ibnu Abbas Ra. berkata: “Nabi Sulaimana diberi pilihan antara ilmu, harta, dan kekuasaan. Lalu ia memilih ilmu, maka Allah memberinya ilmu sekaligus memberinya harta dan kekuasaan”. {Al-Manhaj As-Sawi, Durratun Naasi­­hiin).
  1. Imam Syafi’i Ra. berkata: “Barangsiapa yang menginginkan dunia hendaknya menggunakan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaknya menggunakan ilmu. Karena sesungguhnya ilmu itu dibutuhkan di dalam keduanya”. {Al-Manhaj As-Sawi, Al-Bayaan}.
  1. Diceritatakan di dalam sebuah riwayat, bahwa dunia itu diberikan oleh Allah kepada orang yang dicintainya maupun yang tidak dicintainya. Sedangkan ilmu tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. {Al-Manhaj As-Sawi, Nasyr Thaay At-Ta’riif}.
  1. Amirul Mukminin Al-Imam Ali bin Abi Thalib Ra. berkata: “Ilmu itu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan engkau menjaga harta. Ilmu bertambah ketika diinfakkan, sedangkan harta berkurang ketika diinfakkan (baca: dibelanjakan). Ilmu itu menghukumi, sedangkan harta dihukumi”. {An-Nashaa’ih Ad-Diniyah}.
  1. Imam Syafi’i Ra. berata: “Orang yang tidak suka ilmu tidak mempunyai kebaikan. Karena ilmu adalah cahaya hati, dan dengannya hati akan hidup”.
  1. Ilmu adalah nutrisi hati. Oleh karena itu, ketika majlis ilmu telah selesai, Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi membaca doa:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ

Segala puji bagi Allah yang memberiku makanan ini, memberikan rezekinya kepadaku, dengan tanpa daya dan kekuatanku.

Sebagaimana membaca doa ini setelah makan makanan jasmani.

  1. Fath Al-Muushili Ra. berkata: “Bukankah orang yang sakit, ketika dicegah dari makan, minum, dan obat ia akan mati?”, mereka menjawa, “ya”. Beliau meneruskan: “Begitu pula dengan hati, jika dicegah dari hikmah dan ilmu selama tiga hari, ia pun akan mati”. {Al-Manhaj As-Sawi, Al-Ihya’}

Al-Habib Zein bin Ibrahim bin Sumaith, Al-Fawa’id Al-Mukhtarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: