Dua Hadits Akhlak Untuk Memperbaiki Umat

Ungkapan, tuba liman syagolahu ‘aibuhu ‘an ‘uyuubinnas (sungguh beruntung seseorang yang disibukkan dengan aib dan kesalahannya sendiri dari pada melihat dan memikirkan aib orang lain) merupakan hadits marfu’ (hadits yang silsilah sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW) yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, Imam Al-Qodzo’i, Ad-Dailami, dan Al-Hamdani.

Akan tetapi Imam Abu Bakar al-Haitsami mengatakan di dalam kitab majma’uz zawa’id bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dan di dalam sanad hadits ini ada an-Nasr bin Mahraz dan teman-temannya yang digolongkan oleh ulama hadits sebagai orang-orang yang lemah hafalannya.

Al-‘Ajluuni di dalam kitab kasyful khafaa’ menuturkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailami dari sahabat Anas bin Malik, dan menganggapnya sebagai hadits marfu’. Berbeda dengan ‘Ajluni, imam Adz-Dzahabi di dalam kitab siar a’laamin nubalaa’ menuturkan bahwa silsilah sanad hadits ini tidak bagus. Di dalam sanadnya ada an-Nadzar dan al-Walid yang dianggap sebagai orang yang majhul (tidak diketahui).

Dari paparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa para ulama hadits berbeda pendapat. Ada ulama yang menguatkan hadits itu dan ada pula yang melemahkannya. Namun, meskipun hadits ini dzaif (lemah) dari segi periwayatan, hadist ini tetap dapat dipakai sebagai sandaran atas amalan-amalan yang mengandung fadhilah (keutamaan), tentunya dengan disertai syarat-syarat yang sudah ditetapkan oleh para ulama ahli hadits.

Tidak diragukan lagi oleh akal sehat kita, bahwa hadits ini mengajarkan akan pentingnya akhlak yang mulia. Oleh karena itu para ulama telah bersepakat mengenai kebenaran makna hadits ini, karena ia mengandung prinsip ahlaaqul kariimah (akhlak mulia) dan zuhud.

Adapun hadits yang berbunyi yabsuru ahadukum al-qadzaata fii ‘aini akhihi, wa yansa al jadz’a fii ‘ainihi (artinya sama dengan pepatah; semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, Imam Al-Bukhari, dan Al-Mundziri.

Abu Na’im al-Abahani di dalam kitab hilyatul awliya’ menuturkan bahwa sanad hadits ini ghorib (hanya diriwayatkan oleh satu orang), yaitu Muhammad bin Amir yang meriwayatkan hadits ini dari Ja’far. Sementara al-Hafidz al-Manawi mendhoifkan hadits ini.

Para ulama juga berbeda pendapat mengenai keshahihan (kebenaran) hadits ini dan kedha’ifannya (kelemahannya). Tetapi pada dasarnya, hadits dha’if dapat diamalkan apabila sesuai dengan tujuan prinsip syareat Islam dan maknannya mengandung nilai-nilai akhlaqul kariimah.

Dengan 2 hadits ini pada hakekatnya nabi Muhammad SAW hendak meletakkan sebuah metode untuk memperbaiki umat sekaligus menguji orang-orang yang mengaku menyeru untuk memperbaiki masyarakat, apakah orang ini benar-benar ingin memperbaiki masyarakat atau hanya ingin mempengaruhi orang-orang dengan pola pikir yang dianutnya.

Dari sini kita dapat melihat, apabila orang itu malah disibukkan dengan aib dan kesalahan orang lain dan melupakan aib dan kesalahan dirinya sendiri, maka ia dianjurkan untuk melakukan introspeksi diri, kemudian berupaya untuk segera memperbaiki diri. Dan apabila dirinya telah menjadi baik, maka ia baru boleh memperbaiki orang lain yang dimulai dari memperbaiki keluarganya, kerabatnya, baru kemudian meluas kepada masyarakat umum.

Semoga Allah senantiasa memberikan kedamaian dan keamanan bagi kita, keluarga dan anak keturunan kita semua. Amiin Ya Rabbal Aalmiin.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima yusyghilul Adzhaan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: