Keutamaan Menuntut Ilmu Dan Kemuliaan Majlis Ilmu

  1. Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith menggambarkan suatu permasalahan dengan berkata: “Andaikan nabi masuk ke dalam suatu rumah yanng terdapat dua majalis di dalamnya, dimana majlis yang satu dipelajari ilmu dan disebutkan hukum halal haram, sementara majlis lainnya disebut di dalamnya sifat-sifat dan tentang kelahiran nabi Muhammad Saw., dimanakah nabi akan duduk?”.

Habib Ahmad meneruskan, “Nabi akan duduk di majlis dimana disitu dibahas tentang halal dan haram. Sedangkan majlis yang disitu disebut-sebut nama, kelahiran, dan sifat-sifat nabi memang mengandung ilmu dan kebaikan, akan tetapi majlis yang pertama lebih utama”.

  1. Nabi Muhammad Saw lebih senang kepada orang yang menghafal kitab zubad (kitab fikih) dari pada orang yang menghafal kitab maulid. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bahwa nabi masuk ke dalam masjid. Di dalam masjid itu nabi menemukan dua majlis yang bagus.

Majlis yang satu melakukan kegiatan berdoa bersama-sama dengan penuh kekhusyuan. Sedangkan majlis yang lain sedang membahas ilmu fikih. Kemudian nabi bersabda: “Kedua majlis ini sama-sama berada dalam kebaikan. Tetapi yang satu lebih utama dari yang lain. Adapun orang yang sama-sama berdoa dengan khusyu’, jika Allah berkehendak maka Allah akan mengabulkan.

Dan jika berkehendak lain, maka Allah tidak mengabulkan doa mereka. Adapun majlis kedua yang sedang belajar dan mengajar ilmu fikih, ketahuilah sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar, dan merekalah yang lebih utama”. Lalu nabi mendatangi mereka (yang mempelajari ilmu fikih) dan duduk bersama dengan mereka. {Al-Manhaj As-Sawi, Nasyr At-Thayy At-Ta’rif}.

  1. Ka’b Al-Ahbar berkata: “Seandainya pahala majlis-majlis ilmu itu tampak pada manusia, niscaya mereka akan saling berperang untuk mendapatkan pahalanya, hingga orang yang mempunyai kekuasaan akan meninggalkan kekuaaannya, dan orang yang dipasar akan meninggalkan pasar dan barang dagangannya”. {Al-Manhaj As-Sawi, Al-Qirthas}.
  1. Rasulullah Saw. Bersabda: “Baragsiapa yang dijemput kematian dan ia dalam keadaan menuntut ilmu guna menghidupkan agama Islam, maka jarak antara dia dan para Nabi di surga hanya satu derajat”. {HR. Ibnu Majah}.
  1. Ketika orang-orang saleh disebut-sebut, maka rahmat Allah akan turun . Lalu bagaimana bila berkumpul dengan mereka?. Dan bagaimana pula bila menyebut orang paling saleh diantara orang-orang saleh, yakni Rasulullah Saw. {kalam Habib Ahmad bin Sumaith}.
  1. Ketika sebagian orang bertanya kepada Habib Umar Hamid: “Mengapa engkau tidak menikahkan anak-anakmu, padahal mereka telah dewasa?”, beliau menjawab: “Kami ingin mereka mendalami ilmu terlebih dahulu”. {Kalam al-Habib Ahmad bin Sumaith}.
  1. Habib Abdullah Al-Haddad berkata: “Barangsiapa yang akalnya bodoh, hendaknya memperbanyak ibadah. Dan barangsiapa yang mempunyai kecerdasan yang cemerlang, maka memperbanyak belajar ilmu, karena ilmu akan menyelamatkannya”. {Kalam Al-Habib Abdillah bin Idrus Al-Idrus}.
  1. Habib Ali Al-Habsyi berkata: “Aku sangat senang dengan ilmu nahwu. Aku tidak memulai pelajaran setelah shubuh kecuali dengan ilmu nahwu, sampai-sampai muncul perasaan tidak enak di dalam diriku, dan aku berkata: ‘Bagaimana setiap hari aku memulai dengan mengucapkan qaama zaidun, jalasa zaidun?’”.

Pada suatu hari, salah seorang yang mengikuti pengajian beliau ada yang duduk sembari menyandarkan badannya di dinding, dan dihinggapi rasa kantuk. Tiba-tiba dia melihat tiga orang yang memiliki wajah bagaikan rembulan.

Ia berkata: “Yang pertama dan yang kedua telah melewatiku, dan yang terakhir aku pegang bajunya seraya bertanya kepadanya: ‘Siapakah kalian bertiga?’, ia menjawab: ‘Yang pertama adalah nabi Muhammad Saw, yang kedua Ali bin Abi Thalib’, lalu aku bertanya lagi kepadanya: ‘Lalu anda siapa?’, ia menjawab: ‘Aku adalah Hasan bin Ali, aku bertanya: ‘Hendak kemana kalian?’,

ia berkata: ‘Kami hendak menghadiri majlis anak kami Ali’. Ketika orang itu menceritakan hal ini kepada Habib Ali Al-Habsyi, ia berakata: “Selama nabi menghadiri majlisku dalam pelajaran nahwu, maka apapun tidak aku pedulikan”. {Al-Mawaa’izh Al-Jaliyah}.

Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, Al-Fawa’id Al-Mukhtarah

Baca Juga : 4 waktu yang harus kita ketahui

Bagaimana agar Sholat Khusyu

Kabar Gembira, untuk yang menahan 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: