Jangan Melihat Kecuali Kepada Allah

Jangan Melihat Kecuali Kepada Allah. Para ulama mengatakan bahwa dasar dan prinsip yang lain ketika berjalan menuju Allah adalah ‘multafitun laa yashil’ (orang yang menoleh tidak akan sampai). Jika kita ingin sampai pada akhir perjalanan ini, maka hendaknya kita harus senantiasa berjalan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Ketika kita berjalan di jalanan yang dipenuhi hiasan gemerlapan dan warna-warni lampu-lampu indah, biasanya kita akan berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan itu. Setiap ada yang menarik, kita akan cenderung menghentikan perjalanan sejenak.

Ketahuilah, umur akan pergi dengan sia-sia jika kita terus-menerus seperti itu. Para kekasih Allah sering mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang, jika engkau tidak bisa mematahkannya maka engkau akan dipatahkan. Al-Imam Syafi’i Ra. berkata, “aku telah berteman dengan orang-orang sufi, dan satu pelajaran berharga yang aku perolah dari mereka adalah waktu itu ibarat pedang”.

Multafitun laa yashil’ (yang menoleh tidak akan sampai) adalah satu pondasi besar dari beberapa pondasi dalam beradab kepada Allah Swt. Oleh sebab itu, yang diminta dari kita adalah ikhlas karena Allah.

Perjalanan ini tidak diniatkan untuk melihat anwaar (cahaya-cahaya), tidak pula untuk menyingkap asraar (rahasia-rahasia), tidak pula untuk mengamati rahasia alam mulk (alam yang bisa dilihat dan dirasakan dengan panca indra), tidak pula untuk menyaksikan keajaiban malakuut (alam gaib). Namun, tujuan yang ingin dicapai hanya satu yaitu Allah Swt.

Jika seorang hamba sedang berdzikir, sesungguhnya ia sedang membeningkan kalbunya. Dzikir adalah alat pengkilap hati, dan ketika hati telah bersih mengkilap ia akan menjadi cermin. Jika hati telah menjadi cermin, ia akan memantulkan anwaar rubuubiyah (cahaya ilahi). Pemantulan cahaya ilahi dari hati akan menimbulkan kenikmatan yang luar biasa.

Kenikmatan ini sungguh lain dirasakan, sampai-sampai para sufi tidak menemukan bahasa yang tepat untuk mengungkapkan rasa ini. Tidak akan merasakannya, kecuali mereka yang telah mempraktekkannya. Siapa mereka yang telah merasakannya akan mengetahui, dan yang mengetahui akan terus mengeruk rezeki dan kenikmatan. Kita tidak akan bisa mengetahui tanpa mencobanya.

Dzikir adalah langkah awal dalam berjalan menuju Allah. Bila engkau sedang mengingat Allah, lalu terjadi sesuatu yang menakjubkan pada dirimu, kemudian engkau terlena dengan sesuatu yang menakjubkan ini, berarti engkau sedang menoleh. Inilah awal penyimpangan, dan engkau tidak lagi dikatakan ikhlas dalam mencari Allah Swt.

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: