4 Hal ini yang menentukan Keberhasilan Menghafal Al Quran

Oleh : Ust. Ziyad Ulhaq

Soal Metode Menghafal AlQuran!

Tak benar, dapat menghafal AlQuran dan tidaknya seseorang itu dikaitkan dengan tingkat kecerdasan intelektual atau jumlah IQ-nya!

Bila demikian, para professor yang IQ-nya tinggi2 itu bisa, mudah dan cepat menghafal AlQuran,

nyatanya; tidak?

Namun, lebih ke kelebihan dominasi cara kerja otak, cenderung ke kanan atau kiri sebagai sebuah kelebihan, tidak untuk diperbandingkan.

Tak benar juga! Bila dikatakan orang yang punya banyak waktu luang (nganggur) itu bisa menghafal AlQuran.

Coba ajak abang2 dan mas2 yang suka nongkrong di warkop atau pos siskamling main gaplek untuk menghafal AlQuran, bisa tidak!?

Sekali lagi tak benar! jika dikatakan asal ada niat dan kemauan saja, siapapun bisa menghafal AlQuran.

Coba saja! Terbukti, banyak yang berhenti di tengah jalan.

Metode menghafal dari zaman Nabi sampai saat ini tak pernah berubah.

Dibaca (kan), diulang2, dan di setorkan kepada seorang guru tanpa mushaf.

Jangan mudah terbujuk dengan metode2 yang menawarkan menghafal cepat, berbayar jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Sudah banyak korban-nya!Bahkan, saya pernah mengutus istri “menyamar” mengikuti pelatihan sebuah metode yang meng-klaim dapat cepat menghafal.

Substansi-nya, sama saja!

Saya pun pernah menawarkan kepada sejumlah orang, yang meng-klaim menemukan metode cepat menghafal, tolonglah bantu mahasiswi kami (IIQ) menghafal 5 juz saja sebagai program minimal.Nyatanya, tak seorangpun menyanggupinya.

Tetap saja, setiap semester ada mahasiswi yang tak dapat ikut UAS sebab tak tercapai target hafalannya!

Keberhasilan menghafal AlQuran itu tak akan bisa lepas dari unsur; hidayah, niat dan kemauan yang keras, serta waktu luang.

Memang, menghafal AlQuran itu hidayah!

3 Hadits Tentang Amalan yang Paling dicintai Allah

Dengan mempelajari dan melaksanakan amalan-amalan yang paling dicintai Allah semoga kita semua mendapatkan ridhoNya. Aamiin

  1. Perbanyak Tasbih, Tahlil, dan Takbir 10 hari pertama bulan Dzulhijjah

Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘Anhuma, dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘Anhuma, dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Tidak ada hari yang perbuatan baik di dalamnya lebih agung di sisi Allah dan dicintai-Nya dibanding sepuluh hari. Maka perbanyaklah tasbih, tahmid, tahlil dan takbir di dalamnya.” (HR. Tabrani).

2. Shalat pada Waktunya, Berbakti kepada Orangtua dan Jihad di Jalan Allah

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا”. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ” بِرُّ الْوَالِدَيْنِ “. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: “الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ” 81-138.

Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, Aku berkata, “Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, ” Shalat pada waktunya .” Aku berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, ” Berbakti kepada kedua orang tua .” Aku berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, ” Berjihad di jalan Allah .” Shahih: Al Bukhari (527) dan Muslim (85).

3. Istiqomah dalam Beramal

…يَاأَيُّهَا النَّاسُ، خُذُوْا مِنَ الْأَعْمَالِ مَاتُطِيْقُوْنَ، فَإِنَّ اللهَ لَايَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوْا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَادَامَ وَإِنْ قَلَّ 

“Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HRBukhari dan Muslim).  

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,


أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” Suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)

Sumber :